Entri Terbaru

Serba-serbi Pemilu 2014 menarik untuk di analisa,mau tahu?

Written By pkskabbandung on Minggu, 20 April 2014 | 15.40

Berpegang pada pengumuman hasil Quick Count (QC) Pileg 2014, yang menempatkan tidak satupun partai politik mampu mengusung calon presiden (capres) sendiri, seluruh partai saat ini melakukan langkah politik untuk berkoalisi. Tujuannya tentu agar jumlah suara gabungan koalisi bisa memenuhiu syarat untuk mengusung capres, yaitu sebesar 25% perolehan suara nasional atau 20% perolehan kursi DPR-RI.
Ada yang menarik pada peta koalisi yang sedang coba dibangun. Terlihat PDI-P yang berdasar hasil QC memperoleh suara terbesar (19%) begitu agresive melakukan pendekatan ke Partai yang lain. Pendekatan juga terlihat sangat agresiv dilakukan oleh Jokowi sang Capres dari PDI-P. Hanya berselang 1 hari dari pengumuman hasil QC, Jokowi sudah melakukan safari politik keberbagai Parpol, mulai dari Nasdem, PKB, Bahkan ke Golkar.
Ajakan Koalisi Jokowi ini ada yang bersambut, ada yang mengambang, bahkan ada juga yang ditolak mentah-mentah. Nasdem menyambut ajakan dengan tangan terbuka dan tanpa syarat. PKB yang masih menikmati mabuk kemenangan karena peningkatan perolehan suara, nampaknya sedang memainkan kartu untuk tarik-ulur tawaran dengan Jokowi. Sementara Partai Golkar sebagai partai dengan perolehan suara kedua (lagi lagi hasil QC), dengan tegas menolak dan menantang Jokowi di gelanggang PILPRES 2014.
Boleh dibilang sebenarnya PDI-P diujung tanduk. Jika berpegang pada hasil QC maka mau tidak mau, agar pencapresan Jokowi bisa terlaksana, koalisi adalah jalan satu satunya. Dan ini bukan hal yang mudah, sebagaimana analisa ditulisan saya terdahulu (baca disini). Pencapresan Jokowi sebelum pileg  mengadung resiko besar, terutama jika perolehan kursi PDI-P kurang dari 20%. Jika hal itu terjadi maka kemungkinan besar PDI-P akan gagal mengusung capres. Penyebabnya adalah karena Jokowi akan dijadikan musuh bersama oleh Parpol yang lain.
hasil quick count cysrus
Sekarang terbukti, perolehan suara PDI-P yang hanya 18-19% pasti tidak akan mampu untuk mengumpulkan 20% kursi DPR-RI. Terbukti juga akibat perolehan suara ini, terlihat Parpol mengambil sikap “bermusahan” dengan PDI-P. Tidak ada satupun daya tarik PDI-P yang bisa ditawarkan lagi kepada Partai lain, tidak ada satupun strategi rahasia yang masih tersimpan yang dapat menakuti partai yang lain. Tidak ada yang namanya Jokowi Effect di Pileg 2014 yang baru lalu.
PDI-P sekarang menjadi sangat tergantung dengan partai lain, sekecil apapun perolehan suara partai lain tersebut. Dan inilah yang saya maksud PDI-P diujung tanduk dan karir Jokowi dipertaruhkan. Bisa jadi mimpi PDI-P untuk berkuasa kembali harus kandas lagi.

Poros Indonesia Raya, bisa membuyarkan ambisi Jokowi

Dengan kemunculan wacana Poros Indonesia Raya yang dimainkan oleh Amien Rais, dengan merangkul partai-partai Islam dan menggabungkan dengan partai nasionalis, akan menjadi ancaman besar bagi PDI-P, sekaligus bisa membubarkan rencana koalisi yang sedang dibangun dengan Nasdem dan PKB.
amien rais
Jika Partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PBB berkoalisi setidaknya ada 22% Suara nasional terkumpul dan perkiraan saya gabungan kursi PKS, PAN dan PPP setidaknya berjumlah 25% (lihat tulisan saya cara hitung kursi di Dapil), lebih dari cukup untuk memajukan Capres sendiri. Kekuatan koalisi ini akan tidak mudah diabaikan oleh PKB sebagai partai nasionalis berbasis ummat islam, khususnya Nahdatul Ulama (NU). Apalagi PKB sangat memperhatikan suara ulama NU, yang sudah memperingatkan Muhaimin Iskandar (cak Imin) sang Ketua Umum untuk tetap mendukung Capres/cawapres sendiri yang sejak awal di usung, seperti Mahfud MD.
Disinilah saya lihat makin terjepitnya posisi PDI-P. Perkiraan saya, Cak Imin sebagai ketua umum PKB tidak akan begitu saja mengabaikan peringatan Ulama NU. Cak imin saya perkirakan akan ikut bergabung dengan koalisasi Indonesia Raya yang digagas Amien Rais dan partai islam lainnya.
Jika ini terjadi, maka peluang PDI-P mengajukan capres makin berat, apalagi dengan sudah munculnya pendeklarasian Prabowo sebagai Capres dari PPP. Artinya koalisi Indonesia Raya sudah pasti akan terbentuk hanya menunggu waktu saja untuk di deklarasikan. Nasib PDI-P benar benar diujung tanduk.

PDI-P Tergantung Nasdem

Pencapresan Jokowi menjadi sangat tergantung kepada Nasdem, tergantung pada Surya Paloh. Saya tidak yakin dengan perubahan peta akibat munculnya poros Indonesia Raya ini, Jokowi tidak akan tawar-menawar kekuasan dengan Nasdem. Tentu Nasdem yang memiliki sikap perjuangan Restorasi Indonesia, akan memilih parter koalisi yang kemungkinan besar bisa memenangkan Pilpre Juni nanti.
Jika Gerindra, PKS, PAN, PPP, PKB dan PBB sudah berkoalisi, maka hanya akan tinggal Golkar, Demokrat dan Hanura (plus PKPI yang tidak signifikan) yang belum menentukan partner koalisinya. Akbar Tanjung sudah tegas menolak Jokowi, Susilo B Yudhoyono (SBY) sangat tidak mungkin bergandengan dengan PDI-P yang mengusung Jokowi, demikian juga Wiranto dan Harry Tanoe yang pasti tidak bisa menerima Figur Jokowi yang dominan.
Terlihat Jokowi sudah dijadikan musuh bersama oleh semua Parpol karena begitu dominan nya Jokowi saat ini dalam percaturan Politik Tanah Air. Dan makin dijadikan musuh bersama karena sikap PDI-P yang terlihat seperti sudah dikendalikan oleh Jokowi dan kekuatan yang ada dibelakangnya. Apalagi dengan semakin tenggelamnya Megawati oleh pamor Jokowi.
Harapan Jokowi hanya ada pada Surya Paloh dengan Nasdemnya. Mau tidak mau Jokowi harus bisa memenuhi semua keinginan dan harapan Surya Paloh. Jika Jokowi dan PDI-P salah langkah, salah sikap sedikiti saja dan mengecewakan Surya Paloh, maka selesailah Jokowi dan terkuburlah mimpi PDI-P

Golkar Penentu Peta Pilpres

Jika berpegang pada hasil QC dan perkembangan politik akibat munculnya wacana Poros Indonesia Raya, maka peran Partai Golkar sangat menentukan. Orang boleh saja tidak suka dengan Aburizal Bakrie (ical), tapi senyatanya Golkar memperoleh suara 14% Nasional, dan ini jumlah yang tidak kecil. Perkiraan saya, Kursi DPR-RIyang akan dikuasai Golkar akan lebih dari 15%. Golkar hanya butuh 5% kursi saja lagi untuk bisa mengusung Capres sendiri. Walau ada isu peninjauan kembali Ical sebagai Capres Golkar, saya yakin dengan pengalaman politik Golkar, siapapun capresnya, Golkar tetap solid dan bisa mengambil keuntungan.
aburizal-bakrie
Jika dilihat perolehan kursi Golkar yang 15%, maka golkar akan mudah saja menawarkan koalisi dengan Demokrat, apalagi baik Ical dan SBY sudah berpengalaman bersama-sama dalam kabinet. Dan bagi SBY pilihan berkoalisi dengan Golkar adalah pilihan yang paling rasional walau sangat terbuka kemungkinan digandeng oleh Gerindra. Bagi Golkar, menundukan Demokrat cukup menawarkan Kursi Cawapres dan Demokrat sudah memiliki stok cawapres yang cukup dari Konvensi Demokrat.
Sementara bagi Hanura, memilih berkoalisi dengan Golkar adalah pilihan yang paling bijak. Tidak saja karena ideologi yang mereka usung sama, tapi juga bagi Hanura, Golkar adalah rumah asal mereka. Wiranto yang mantan kader Golkar tidak akan terlalu sulit berkomunikasi dengan elit di tubuh partai Golkar.
Jika Koalisi Golkar, Demokrat dan Hanura terbentuk, maka peta politik pencapresan sudah selesai tergambar. Makin terjepitlah Jokowi untuk mewujudkan cita citanya maju sebagai calon presiden di Pilpres 2014 ini.

Poros Indonesia Raya Harus Terwujud

Dengan kondisi ini, saya yakin Poros Indonesia Raya pasti terbentuk, karena inilah jalan terbaik untuk membendung dominasi Jokowi dan PDI-P. Dan Jika poros ini sudah terbentuk, maka Kemungkinan terbesar Golkar, Demokrat, Hanura dan Nasdem akan bersatu, karena sejatinya keempat partai ini rumah asalnya adalah GOLKAR.
Jika ini terjadi, mimpi PDI-P untuk kembali berkuasa, mimpi PDI-P untuk berbuka setelah berpuasa selama 10 tahun, terpaksa akan dipendam. PDI-P harus kembali menjalankan puasanya.
Skenario inilah yang menurut saya paling mungkin terjadi saat ini, Gerindra dengan Partai partai Islam disatu sisi berhadapan dengan Partai Nasionalis berbasis Kekaryaan disisi lainnya, Sebuah pertarungan yang menarik.

Lantas bagaimana PDI-P ?

Inilah buah keangkuhan politisi yang mengumpan Jokowi sebelum PILEG, buah dari ketidaksabaran akan mencicipi kekuasaan.
Ada jalan lain jika PDI-P ingin berkuasa, yaitu membuang ego nya, membuang wacana “tidak bagi bagi kekuasan”, memulai politik pragmatis tanpa ideaologi, bagi-bagi kursi, bagi-bagi kekuasaan, menawarkan jabatan pada partai yang diajak koalisi. Dan Jika ini terjadi, saya tidak yakin pemerintahan PDI-P jika nanti terpilih akan berjalan efektif. Saya tidak yakin jika ini dilakukan Jokowi akan bisa jadi Presiden idaman Rakyat Indonesia sesuai dengan yang digembar gemborkan Jokowi selama ini.
Sungguh sayang, jika ini terjadi, jika PDI-P gagal lagi menuju kekuasan kali ini. Semoga orang-orang Nasionalis belajar lagi, apa arti kesabaran Perjoangan, apa arti berjuang secara ideologis dan mengedepankan kader kader terbaik.

Penulisn

Ferry Koto

Investor at Wira Investama
Seorang Usahawan, Memimpikan Indonesia Yang Berdaulat, Yang bergotong Royong untuk Mandiri dan Bermartaba

Anis Matta Satu-Satunya Ketum Parpol Islam di Pertemuan Cikini,Keseriusan PKS Menggalang koalisi partai Islam

Written By pkskabbandung on Jumat, 18 April 2014 | 10.00



Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta dalam pertemuan Koalisi Politik Islam di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/4) malam.

Foto: Ricardo/JPNN.Com
Presiden PKS ,Annis Matta

JAKARTA - Pertemuan tertutup antara tokoh-tokoh Islam dengan para politisi dari partai berbasis Islam di Cikini, Jakarta Pusat hingga saat ini masih berlangsung. Sejumlah elit partai juga terus berdatangan.
Namun, hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang terlihat paling semangat menghadiri forum itu. Delegasi dari PKS dipimpin langsung oleh sang presiden partai, Anis Matta. Dalam rombongan Anis ada Wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah dan Ketua Fraksi PKS DPR, Hidayat Nur Wahid.
Sedangkan dari PKB hanya mengutus bendahara umumnya, Bahruddin Nashori. Untuk PAN yang mewakili adalah Amien Rais selaku Ketua Majelis Pertimbangan Partai dan sekretarisnya, Azwar Abubakar. Sedangkan PPP diwakili salah satu fungsionarisnya, Muchdi PR.
Karenanya PKS bida dibilang paling semangat membahas ide koalisi politik Islam. "Saya diundang hadir, tamu di dalam pertemuan ini, jadi isinya seperti apa. Jadi tujuan saya untuk mendengarkan langsung apa idenya, kalau PKS sendiri sampai sekarang masih fokus membereskan perhitungan suara dulu, supaya posisi kita jelas di dalam koalisi," kata Presiden PKS Anis Matta sebelum pertemuan di rumah milik Ratna Hasyim Ning di Cikini.
Sementara Hidayat Nur Wahid yang juga kandidat capres PKS mengatakan, secara prinsip dia menyebut partainya mendukung aspirasi umat Islam yang menghendaki ada koalisi partai Islam. Karenanya ia berharap tidak ada hambatan untuk mengusung koalisi politik Islam.
"PKS mendukung aspirasi itu. Kita dengarkan dengan baik kita perjuangkan. PKS akan berharap untuk itu. Ya bagaimana rekan-rekan yang lainnya bisa boleh untuk berkoalisi mestinya bisa tidak ada hambatan dan tidak perlu dihambat umat Islam," jelasnya.(fat/jpnn)

Sinyal Kuat koalisi Parpol Islam


Pertemuan ormas dan parpol Islam
Sekjen PKS Perkuat Sinyal Koalisi Parpol Islam Usung Capres Sendiri
Jakarta - 5 Parpol Islam berkumpul membahas wacana koalisi parpol Islam dalam pilpres. Apakah tujuan koalisi ini untuk mengusung capres bersama?
"Kemungkinan itu pasti ada," kata Sekjen PKS Taufik Ridho usai pertemuan di Jalan Cikini Raya No 24, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/4/2014).
Taufik mengatakan, dalam pertemuan tadi, ormas Islam banyak memberi masukan kepada parpol Islam. Dan parpol yang hadir menampung masukan-masukan itu.
"Partai Islam coba menampung suara keummatannya itu dari ormas-ormas Islam," ujar Ridho.
Taufiq juga mengatakan pertemuan antar parpol dan ormas Islam yang digelar di rumah pengusaha almarhum Hasyim Ning itu lebih banyak diisi dengan curhat tentang kondisi masing-masing parpol Islam, terutama pasca pileg.
"Karena kemarin ormas-ormas sudah serukan pilih parpol Islam, sekarang sudah dipilih dan disampaikan ormas sekarang kebalikannya. Apa keinginanya dari Ormas-ormas Islam itu," tuturnya.
Pertemuan itu digelar tertutup di rumah Hasyim Ning. Hadir perwakilan 5 partai Islam yaitu PAN, PKS, PKB, PPP dan PBB. Sementara perwakikan ormas NU, Muhammadiyah, MUI, Persis, DMI, DDI, Syarikat Islam dan lainnya.
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/04/18/014721/2558992/1562/sekjen-pks-perkuat-sinyal-koalisi-parpol-islam-usung-capres-sendiri?9922022

Masif nya Kecurangan Hampir di Seluruh Indonesia,cacat hukum kah hasilnya?

Written By pkskabbandung on Kamis, 17 April 2014 | 19.50

Kecurangan Sangat Parah, PKS Laporkan Penggelembungan Suara di Bangkalan

Kamis, 17 April 2014


Penggelembungan Sampai Ribuan Suara terhadap 6 Partai Terjadi Di Bangkalan, Tim Saksi dan Caleg PKS Resmi mengajukan Laporan Kecurangan.

Berdasarkan perhitungan saksi dari PKS terkait hasil rekapitulasi suara di 36 TPS di Dapil VI, Desa Banyuajuh Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Terindikasi kuat telah terjadi pengelembungan suara pada hasil suara 6 partai yang jumlahnya mencapai ribuan suara. Data lengkap bisa dilihat dalam tabel dibawah ini

Penggelembungan Suara di tingkat DPRD Kabupaten Bangkalan


Penggelembungan Suara di tingkat DPRD Propinsi Jawa Timur


Penggelembungan Suara di tingkat DPR RI Pusat


Dari data ini sangat kuat diindikasikan telah terjadi transaksi Jual beli Suara sehingga dugaan Penggelembungan suara ini sudah dilaporkan tim saksi dan caleg PKS ke Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Kamal dan juga  sudah diteruskan ke Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten (Panwaslu) Bangkalan.

Rontok nya Hasil Survey Lembaga-Lembaga Survey

Written By pkskabbandung on Minggu, 13 April 2014 | 09.24



Kekeliruan, bahkan kesalahan, berbagai hasil survei politik kembali terjadi secara mengejutkan. ketika pada 9 April 2014, sekitar jam 17.00 WIB, hasilquick count(hitung cepat) pemungutan suara untuk pemilu legislatif (pileg) diumumkan.

Ternyata, kembali terjadi perbedaan yang tajam antara hasil-hasil survei sebelumnya dengan hasil hitung cepat seperti yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta pada 2012. Pada Pilgub DKI Jakarta, sampai hari-hari terakhir menjelang pemungutan suara, hampir semua hasil survei menyebut Foke-Nara sebagai pemenang signifikan. Tetapi, hasil pilgub membuktikan kesalahan berbagai survei karena yang menang ternyata Jokowi-Ahok, pasangan calon yang sebelumnya diremehkan berbagai survei. Pada Pileg2014kesalahan-kesalahan hasil survei tampak mencolok juga.

Partai-partai berbasis massa Islam yang semula diduga akan terkubur karena merosotnya kepercayaan masyarakat ternyata meningkat secara mengejutkan dengan kumulasi perolehan sampai sekitar 31%. Partai Golkar yang semula diunggulkan dengan kisaran suara 19% ternyata hanya meraih 15%. Perolehan PDIP terpaut signifikan dari hasil survei maupun targetnya. Kejutan perlawanan hasil hitung cepat terhadap hasilhasil survei sebelumnya tampak jelas pula pada beberapa partai.

Partai NasDem yang oleh banyak survei dilihat secara pesimistis karena untuk mendapat 3,5% saja dianggap susah ternyata mendapat hampir 7%, menyamai partai lama, Partai Persatuan Pembangunan yang juga mengalami kenaikan sedikit. PKS yang karena terpaan isu korupsi hanya akan bertahan pas-pasan di dekat parliamentary threshold, ternyata mampu bertahan di posisinya pada kisaran 7%. PKB pun meroket secara mengejutkan dari perolehan Pileg 2009 sebesar 4,8% menjadi sekitar 9,1%.

Padahal sebelum pileg banyak survei yang selalu meletakkan PKB pada perolehan sekitar 4%, bahkan ada yang tega meletakkan di bawah parliamentary threshold 3,5%. Ada juga yang memang mendekati hasil survei yakni fakta bahwa PBB dan PKPI benar-benar tidak masuk ke parliamentary threshold. Begitu pula, meski angkanya kurang akurat, hasil survei menyatakan bahwa Partai Demokrat akan terjun bebas sesuai hasil pileg karena terjun dari 20% ke kisaran 9%. Hasil-hasil survei politik belakangan ini memang banyak yang meleset sehingga tak lagi bisa dijadikan pegangan sebagai produk kerja ilmiah yang logis dan predictable.

Hasil survei dan hasil pemilihan yang sesungguhnya kerapkali berbeda secara mengejutkan. Kalau metodologinya benar, mestinya hasil-hasil survei lebih banyak benarnya daripada salahnya, bahkan tingkat kesalahannya sudah bisa diukur sebelumnya oleh metode dan hasil survei itu sendiri yang dibatasi denganmargin tertentu. Ketika itu ditanyakan kepada pembuat survei, jawaban yang sama selalu dikemukakan bahwa hasil survei hanya memotret pada saat dilakukan survei dan bisa berubah pada saat-saat akhir. Ya, juga sih.

Survei memang potret saat dilakukan wawancara. Tetapi, tentu itu bukan jawaban yang tepat. Kalau jawabannya hanya begitu, ya tak perlu survei-surveian segala. Mestinya ada metode agar perbedaan itu tak terjadi dengan sangat mencolok. Mungkin benar yang dikatakan Dradjad Wibowo, banyak intelektual dan lembaga survei yang belakangan ini melacurkan diri, tidak melakukan survei dengan cara-cara profesional- ilmiah sehingga survei lebih banyak melesetnya atau malah dipelesetkan asal mendapat uang. Sekarang ini banyak lembaga survei yang mengerjakan survei sudah didahului dengan tendensi politis tertentu.

Bahkan ada penyurvei yang membawa lembaganya untuk menjadi tim sukses atau konsultan salah satu kontestan dalam sebuah kontestasi politik. Berusaha seobjektif apa pun, kalau sudah menjadi tim sukses atau konsultan suatu kontestan, akan menyebabkan hasil survei tak lagi akurat karena akan diarahkan membentuk dan menggiring opini untuk menguntungkan kliennya. Waktu saya masih ketua MK, ada pimpinan lembaga survei yang mengurus perkara kliennya yang diperkarakan di MK. Luar biasa. Dalam kenyataan kita sering dikagetkan oleh munculnya satu lembaga survei secara tiba-tiba yang kiprahnya belum pernah terdengar.

Tiba-tiba lembaga ini memasukkan nama orang yang tadinya ada di luar pusaran tokoh-tokoh populer menjadi bagian dari tiga atau lima besar. Kemasan metodologinya okey juga, tetapi substansinya tak masuk akal. Kemasan yang dipergunakan misalnya menyebut melibatkan 1500 orang di 33 provinsi yang diwawancarai secara langsung dengan toleransi kesalahan 2% dan berbagai tetek bengek kemasan lainnya. Dari kemasan yang seakanakan ilmiah itu dimunculkanlah orang yang sebenarnya tidak masuk dalam survei atau tidak pernah disurvei.

Itulah sebabnya banyak hasil survei yang tak sesuai hasil pemilihan yang sesungguhnya. Membaca fakta maraknya penyurvei yang instan dan tak jelas belakangan ini saya teringat pernyataan Gus Dur pada awal 1990-an bahwa di Indonesia banyak sekali ilmuwan tukang yakni ilmuwan yang menggunakan kepandaiannya untuk menukangi temuan ilmiah sesuai pesanan.

Sekarang pun banyak penyurvei dan lembaga survei yang tidak bekerja pada prinsip objektivitas-ilmiah, tapi bekerja sesuai pesanan. Mereka menukangi rencana dan hasil survei agar sesuai keinginannya sendiri atau pesanan klien sehingga lebih tepat disebut sebagai tukang survei atau ahli menukangi survei. 

MOH MAHFUD MD
Guru Besar Hukum Konstitusi
Sabtu 12 April 2014

Astagfirulloh,Kemenangan PKS Yang Tidak Di Inginkan Oleh Partai Lain

MobilPKS Bima yang di rusak Para Preman

Saat tim C1 DPW PKS NTB turun lokasi menjemput C1 di Kec. Soromandi kabupaten BIMA, Kamis 10 April 2014, pulangnya dihadang oleh preman yg bersenjata tajam. Para penghadang merampas smua C1 dan menghancurkan bbrp kaca2 jendela mobil.
Alhamdulillah tidak ada yg terluka.
Saat ini tengah dilakukan investigasi oleh Tim dari Polres Bima.

Tetap waspada dan tak lengah menjaga suara amanah masyarakat.
Husnuzh zhann billaah: ini insyaallaah isyarat kemenangan di NTB. Insyaallaah..
A'aanakumullaahu yaa ikhwah, wa yassarakallaahu umuurakum, wa tsabbatallaahu quluubakum wa aqdaamakum, wa wahhid shufuufakum, wa saddid kalimaatakum.
Wa zalzil qulubaalladziina man 'aadakum, wa farriq shufuufahum, wa syathith kalimaatahum.
Wa tsabbatallaahu lakumul ujuur insyaallaah, wa fataha lakumul fath insyaallaah



PKS Siap Jadi Oposisi

Mardani Ali sera : juru bicara PKS
TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera, Mardhani, megatakan partainya siap menjadi oposisi pada pemerintahan 2014-2019. "PKS tak lagi berpikir koalisi, tapi bagaimana membangun pemerintahan yang efektif. Bila harus oposisi, kami siap," kata Mardhani dalam diskusi Sindo Radio Network di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 12 April 2014.
Menurut Mardhani, partainya sudah hampir sepuluh tahun merasakan suka-duka koalisi. Namun, kata dia, selama ini PKS tak merasakan efektivitas koalisi membangun pemerintahan.
Pada pemerintahan nanti PKS ingin kebijakan yang dibuat lebih berpihak pada masyarakat. Pemerintah pun harus berani bersikap tegas dalam mengambil kebijakan. "Perjalanan selama ini jadi pelajaran, terlalu lama kita membuang waktu. Kami ingin pemerintahan yang berjalan cepat."
Bila nanti menjadi oposisi, PKS akan memaksimalkan peran di parlemen. Para anggota DPR PKS akan lebih fokus mengkritisi dan menyiapkan undang-undang prorakyat.
Namun, kata Mardhani, apa pun kebijakan yang diambil partai akan diputuskan dalam rapat Majelis Syuro pada Mei mendatang. "Apakah koalisi atau oposisi, semua tergantung keputusan Majelis Syuro,” katanya

PKS Optimis Dapat Dukungan Besar

Written By pkskabbandung on Rabu, 09 April 2014 | 08.30

Fahri Hamzah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) optimistis dalam pemilihan umum (pemilu), Rabu (9/4), partai politiknya akan mendapatkan dukungan besar dari publik. Hal ini disampaikan Wakil Sekjen  DPP PKS Fahri Hamzah dalam pernyataannya, Selasa (8/4).  
"PKS belum pernah turun peringkat dari partai nomor 7 di Pemilu 1999, lalu nomor 6 di Pemilu 2004, dan nomor 4 di Pemilu 2009 lalu. Wajar kalau sekarang naik ke tiga besar dan memimpin koalisi," katanya. 
Dia yakin akan hal ini, karena menyaksikan geliat massa dan opini publik selama kampanye. Menurutnya, PKS yakin publik Indonesia bakal memberikan dukungan yang mengejutkan partai saat pencoblosan. 
Karena itu, menurut anggota Komisi III DPR ini, posisi yang paling mungkin bagi PKS nanti adalah memimpin koalisi pemerintahan atau oposisi. "Kami merasa bahwa situasi ini hanya memberikan dua pilihan dengan kejutan itu." 
Dia menilai, sudah bukan saatnya lagi bagi PKS ikut-ikutan dalam pemerintahan tanpa posisi yang jelas dalam kepemimpinan nasional seperti di masa yang lalu." 
Sebelumnya, kata dia, PKS menjadi partai Islam yang menyatakan posisinya sejak awal dengan mengajukan tiga calon presiden sendiri hasil pemilu raya internal.  Sementara partai politik lain mempertimbangkan untuk merapat ke salah satu capres. 
Ketika ditanya soal koalisi dan wakil presiden yang mau dipilih, Fahri berpendapat, pimpinan DPR yang ada sekarang ini termasuk sumber mitra koalisi dan kepemimpinan nasional yang potensial. "Mereka adalah tim kepemimpinan nasional yang telah membuktikan kinerja dan kekompakan selama ini," katanya.

 
News: Tolak Gugatan 6 Kandidat, MK Putuskan Ridwan Kamil Terpilih Sah Sebagai Wali Kota Bandung. News: FPKS Kab Bandung Tolak Rencana Kenaikan Retribusi Pasar dan Rumah Sakit - Sekretaris FPKS DPRD Kabupaten Bandung Gun Gun Gunawan mengatakan hal tersebut, Dalam hal ini FPKS dengan tegas menolak rencana kenaikan retribusi tersebut dikarenakan masih kurangnya mutu pelayanan sehingga bisa menjadi beban bagi pedagang dan masyarakat Kabupaten Bandung,kata Gun Gun. News: Jabar Rintis Pengiriman Bidan ke Daerah Pelosok. News: Cegah Imigran Gelap, Aher Minta Pemberian Visa Diperketat. News: Wujud Cinta Rakyat, 400 Ribu Kader PKS Bagi Takjil Serentak se-Indonesia. News: Gubernur Jabar Minta Pengusaha Bayar THR Tepat Waktu. News: Gubernur Jabar Klaim Jalan Provinsi Lebih Siap. News: Gubernur Jabar Lepas Klub Swasco Berlaga di Old Traffod.